Rabu, 10 Juni 2015. Pengumuman sekaligus penglepasan siswa-siswi kelas IX di SMP PGRI 3 Kepil berlangsung tidak seperti biasanya. Meskipun terletak 36 km dari pusat kota kabupaten namun suasana berbeda telah diterapkan disekolah ini. Seperti yang dituturkan oleh Dwi Wuryanto, S.Pd. Guru sekaligus wakil kepala bagian kesiswaan yang sekaligus mewaikili ketua panitia Dewi Rochana Suparwiyati, S.Pd yang berhalangan hadir karena sedang menghadiri gladi bersih wisuda pasca sarjana di Universitas PGRI Yogyakarta. "Pada saat pengambilan Pengumuman Kami mewajibkan siswa putra untuk menggunakan pakain jas berdasi, dan pakaian kebaya muslim bagi siswa perempuan. Hal ini bertujuan agar suasana menjadi lebih resmi dan meminimalisir tindak corat-coret baju saat pengumuman telah diberikan. Sebagaigantinya penitia menyediakan kain kanvas yang dipasang dan digunakan oleh siswa untuk mengekspresikan kegembiraannya dengan membubuhkan tanda tangan diatas kain kanvas tersebut." Masih menurutnya bahwa kain tersebut nantinya akan dipasang dan dimuseumkan disekolah untuk dijadikan kenang-kenangan.
Senin, 29 Juni 2015
Kunjungan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Kabupaten Purbalingga ke KIM Kabupaten Wonosobo
.
Kamis, 11 Juni 2015. Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kabupaten Wonosobo mendapat kunjungan dari Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Kabupaten Purbalingga. Rombongan disambut oleh ketua KIM Talun Ombo Sapuran Agus Munajat didampingi oleh Akhmad Sabitun Ketua KIM Jaguar Jangkrikan, Farhan KIM Jlamprang, Rombongan KIM Desa Sawangan dan disambut oleh Rombongan Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Wonosobo di Cafe Allure sebelah selatan alun-alun Wonosobo. Selanjutnya rombongan diajak berkeliling mengunjungi Industri Rumah Tangga (IRT) Carica di komplek BLK Wonosobo, Pabrik Teh Tambi, dan diahiri dengan makan siang di rumah makan apung ditelaga Menjer-Maron-Garung-Wonosobo. Sejauh ini daya tarik makanan khas Wonosobo dengan Caricanya masih tetap menjadi primadona bagi penikmat jajanan dan kuliner nusantara
Merapat di cafe Allure
Pemberian cinderamata dari Dishubkominfo Purbalingga kepada Agus Munajad Ketua KIM Talunombo
Kunjungan ke produsen carica in syrup di komplek Balai Latihan Kerja Capar Kertek Wonosobo
Melihat proses pembuatan carica
Dipabrik pengolah teh UPT Tambi
Makan siang sambil santai di Telaga Menjer
Parampokan di Kertek 3 tertangkap 3 lainnya kabur
Kawanan perampok yang mencoba melancarkan aksi di Desa Campursari RT 6 RW 2, Kecamatan Kertek, Selasa malam (23/6) akhirnya berhasil dilumpuhkan petugas. Sempat terjadi baku tembak dan saling kejar, 3 orang pelaku yang beraksi dengan lebih dahulu melakukan kekerasan terhadap pemilik rumah itu akhirnya menyerah. Dalam gelar perkara di halaman Mapolres Wonosobo, Rabu (24/6), Kapolres AKBP Aziz Andriansyah SH SIK MHum menjelaskan bahwa ke 3 tersangka yang berhasil ditangkap merupakan kawanan perampok dari luar kota, tepatnya Malang Jawa Timur. “Dua tersangka pria atas nama EP (41) dan AD (50) merupakan warga Jabung Kabupaten Malang, sementara satu lagi tersangka adalah seorang wanita bernama JW warga lokal yang ditugasi untuk mencari informasi mengenai target perampokan”, Sebanarnya jumlah perampok ada 6 orang, namun 3 orang berhasil melarikan dari saat baku tembak terjadi, dan saat ini dalam pengejaran/buron terang Kapolres.

Balada Penjual Batagor
Pasar Murah Kecamatan Kepil 2015.
Senin, 29 Juni 2015. Dalam rangka membantu masyarakat miskin
diwilayah kecamatan Kepil, Menurut Camat Kepil Drs.Singgih Kuncoro, M.M. Pemerintah
Kecamatan Kepil mengadakan pasar murah
dan Sidak pasar. 6 desa menjadi target sasaran pasar murah tahun ini. terdiri dari Desa Jangkrikan,
Gondowulan, Pulosaren, Kagungan, Tegalgot, dan Kelurahan Kepi. Menjual sebanyak
1.720 paket sembako yang terdiri dari gula pasir 1 kg, beras 3 kg, minyak 1
liter, gandum 1 kg dan sirup. Tiap paket harga belinya Rp 75.000 dijual dengan
harga Rp. 50.000 selisih Rp. 25.000 dari harga jual mestinya. Dengan estimasi
tersebut pemerintah mensubsidi Rp 43.000.000 (empat puluh tiga juta rupiah) yang dianggarkan dari APBD
Kabupaten. Agar tepat sasaran masyarakat diberi kupon yang pemberian kuponnya
diserahkan pada pemerintah desa yang paham betul kondisi warganya.
Senin, 09 Februari 2015
Senin, 03 November 2014
BERSELIMUT KABUT BERMANDIKAN MENTARI DIPUNCAK NOTOYUDHO
Membicarakan
keindahan Kabupaten Wonosobo memang nggak ada habisnya. Puncak Sukinir yang
terletak di Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo & Puncak
Siprau yang terdapat di Dataran Tinggi Dieng tepat di perbatasan Kabupaten
Kendal dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah yang kini menjadi primadona baru.
Untuk teman-teman yang ada disekitar Kecamatan Kepil bagi yang belum berkunjung
ke Sikunir ataupun kepuncak Prau boleh berkunjung dulu ke Puncak Bukit
Notoyudho. Keindahannya tidak jauh berbeda dengan
Sikunir. Perjalanan yang ditempuh pun tidak terlalu sulit.
Puncak Notoyudho berada di Perbukitan antara dukuh
Pengarengan Jangkrikan dengan Dukuh Bojong Kepil. Untuk musim kemarau
perjalanan dapat ditempuh menggunakan roda dua maupun roda empat, namun kalau
musim hujan agak sulit. Namun bagi anda yang hobi offroad baik pakai mobil maupun
motor sport musim penghujanpun tetap dapat
dilalui. Perjalanan melalui jalur Pertigaan Bojong naik kurang lebih berjarak 1
km, setelah sampai dipertengahan bukit ada pertigaan jalan tanah belok kanan
naik kurang lebih sejauh 0,5 km. Perjalanan dilanjutkan jalan kaki dari parkir
kendaraan hanya kurang lebih dua menit.
Disebut bukit
Notoyudho karena tempat ini merupakan petilasan dari Tumenggung Notoyudho pada
saat berlangsunya perang Diponegoro. Perang Diponegoro adalah perang besar dan menyeluruh
berlangsung selama lima tahun (1825-1830) yang terjadi di Jawa, Hindia Belanda (sekarang Indonesia), antara pasukan
Belanda di bawah pimpinan Jendral
De Kock[1] melawan penduduk
pribumi Indonesia dibawah pimpinan Pangeran
Diponegoro. Berdasarkan dokumen-dokumen Belanda yang dikutip oleh
ahli sejarah, perang ini menewaskan sekitar 200.000 orang warga pribumi.
Sementara korban tewas di pihak Belanda berjumlah 8.000. Perang Diponegoro
merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda
selama masa pendudukannya di Nusantara.
Peperangan ini terjadi secara menyeluruh wilayah Jawa, sehingga disebut Perang
Jawa.
Diatas bukit Notoyudho terdapat batu
yang ditumpuk-tumpuk membentuk semacam pemakaman, dan dalam tumpukan tersebut
terdapat pohon puring sebagai penanda kekeramatran tempat tersebut. Konon
Menteri Penerangan Indonesia Harmoko pada masa pemerintahan Soeharto pernah
berkunjung kesana. Bahkan banyak pejabat negara, anggota DPR dan masyarat yang mengunjungi
untuk ngalap berkah. Konon ceritanya bagi orang yang mau naik pangkat/jabatan dapat berjalan
mulus tanpa kendala setelah berkunjung ketempat tersebut. Wallohualam bi
shawab.
Langganan:
Postingan (Atom)


